Sunday, January 30, 2005

(katanya) berkesenian...

Hari minggu 30 Januari kemarin merupakan hari yang melelahkan bagi saya. Setelah selama 3 bulan lebih mempersiapkan sebuah pertunjukan musical dalam rangka Ulang Tahun KKIS yang ke 20 (Keluarga Katolik Indonesia di Singapura - komunitas masyarakat Indonesia beragama Katolik yang berdomisili di Singapura) akhirnya kemarin kita mencapai puncaknya. Seluruh kerja keras, banting tulang, ke-BT-an, rasa stress yang tertumpah selama persiapan akhirnya terbayar sudah. Pentas kami bisa dibilang sukses, dan kami sendiri tidak percaya dengan apa yang kami capai. Walaupun belum bisa dibilang sempurna, tapi kami tak kecewa, karena kami adalah pemain amatir, dan ini merupakan pentas pertama bagi kami. Semua persiapan kami adakan sendiri, mulai dari menulis skrip, mencipta lagu, menciptakan koreografi tarian, berlatih vokal, mencari musisi pendukung, berburu kostume, merancang dekorasi, semua adalah swadaya dan swakarsa kami sendiri. Segala kepenatan menjadi tak terasa ketika semua penonton terhibur dengan apa yang kami sajikan. Bahkan kami sendiri tak percaya ketika semua teman-teman kami yang artis amatiran tiba-tiba berubah menjadi artis profesional ketika berdiri di pentas. Luar biasa.

Pentas Musikal kami ini diadakan di Singapore Conference Hall (SCH) di Shenton Way. Sebuah gedung pertunjukkan yang menjadi 'markas' Singapore Chinese Orchestra. Gedung ini berkapasitas 885 tempat duduk dengan dukungan teknologi akustik yang luar biasa. Gedung ini selesai dibangun tahun 1965 dan selain berfungsi sebagai tempat pertunjukkan, gedung ini juga menjadi sarana eksibisi, pertemuan tingkat tinggi antar pejabat, seminar, dan lain sebagainya. SCH merupakan auditorium pertama di Singapura yang mengaplikasikan sistem akustik pada desain bangunannya. Pada tahun 2001 gedung ini direnovasi dengan biaya 14 juta dollar, terutama untuk membenahi dan memperbaiki segi akustik dan tata cahaya dengan teknologi mutakhir. Sejak tahun itulah Singapore Chinese Orchestra 'berumah' di sini. Tak pelak lagi, SCH merupakan salah satu gedung pertunjukan yang cukup prestise di Singapura.

Selama 10 bulan berada di kota ini, saya baru berkunjung ke 3 gedung pertunjukkan. Pertama, di Suntec Conference Hall untuk menyaksikan konser KD dan Alicia Keys, kedua di Esplanade Concert Hall juga dalam rangka konser musik, dan yang ketiga ya di Singapore Conference Hall ini. Sebenarnya saya pernah juga menyaksikan pertunjukkan seni skala kecil di sebuah ruang di Arts House, yang dulunya merupakan gedung parlemen lama, yang sekarang juga telah dialih-fungsikan menjadi gedung pertunjukkan dan pameran kesenian. Gedung-gedung ini digarap dengan kesungguhan yang luar biasa. Semuanya dilengkapi dengan tata akustik, tata suara dan tata cahaya yang sangat baik sehingga sebuah pertunjukkan tingkat "amatiran" seperti yang kami lakukan di SCH kemarin pun bisa berubah menjadi pertunjukkan "semi-profesional" karena didukung oleh teknologi-teknologi canggih tersebut.

Iseng-iseng saya buka internet, browsing mencari jumlah berapa banyak tempat/gedung pertunjukkan yang ada di Singapura ini. Ternyata jumlahnya ada 23 buah, belum ditambah dengan gedung pertunjukkan yang ada di sekolah/universitas dan community center yang jumlahnya kira-kira 11 buah. Untuk ruang pameran/eksibisi? hmmm... ada 20 buah, belum termasuk beberapa venue lain yang juga sering dijadikan sarana pameran. Yang patut dicatat adalah, semua gedung pertunjukkan ini dilengkapi dengan tata cahaya, tata suara dan teknologi yang canggih yang bahkan tidak bisa dibandingkan dengan Gedung Kesenian Jakarta ataupun Graha Bakti Budaya TIM. Maaf deh, jauh banget kelasnya.

Jadi, kapan Jakarta punya gedung pertunjukkan yang memadai, sehingga kita tak perlu merubah Gelanggang Olahraga yang fungsi sebenarnya untuk kegiatan olahraga menjadi gedung pertunjukkan musik?

aaahhhh... males ah, mikirnya. susah amat pertanyaannya...
laaahhh katanya indonesia bangsa yang berkesenian...?
auk ah, gelap!


Friday, January 28, 2005

long time no see

Ternyata sudah cukup lama sejak terakhir saya menulis kata-kata dalam blog ini.
Sudah beratus ribu kejadian terlewatkan dan belum sempet terekam dalam halaman elektronik saya. Mau mulai darimana ya? Bagaimana kalau dari soal pindah rumah.

Pindah rumah?
Yup! betul sekali, saya telah pindah dari rumah Monique (kakak sahabat saya yang kamarnya saya sewa dan tinggali dari Mei 2004 sampai Desember 2004) ke sebuah apartemen swasta (atau bahasa kerennya condominium... taelaaaa) masih di kawasan Toa Payoh, dan masih di lorong 1. Blok yang saya tinggali sekarang hanya dipisahkan oleh jalan raya dengan blok tempat dulu saya tinggal. hehehehhe. Gak mau repot jauh-jauh, soalnya saya sudah kadung cinta sama daerah Toa Payoh, yang selain terletak di central, tak jauh dari kawasan city, juga relatif dekat dengan tempat saya bekerja, hanya 15 menit naik 1 kali bus.

Saya menempati satu kamar di sebuah unit apartemen di lantai 4, sebuah apartemen 3 kamar, yang saya tinggali bersama dengan Louise (cewek filipino - copy writer di sebuah advertising agency lokal) dan Adam (Singapore Permanent Resident - account exec. di P&G) dimana Adam berbagi kamar dengan ibunya, warga negara Cina yang ramah dan baik hati, sayangnya tak bisa berbahasa Inggris. Jika dibandingkan dengan kamar saya yang dahulu, kamar tidur saya sekarang lebih kecil luasnya, tetapi ditata sedemikian rupa dengan furniture dan compartments yang apik sehingga barang-barang saya yang banyak itu (terutama sepatu - yang berjumlah 17 pasang) bisa ditampung di dalamnya, dan kamar saya kelihatan spacious. Di salah satu sudutnya terdapat jendela, dengan tepian berupa tangga yang mengarah ke tempat tidur (tempat tidur saya bertingkat, saya tidur di atas, di bawahnya bukan tempat tidur tetapi dibuat menjadi study table). Jadi ketika malam menjelang, saya bisa duduk di tangga tepi jendela, sambil memandang ke arah kolam renang (oh iya, tempat tinggal saya ini dilengkapi dengan swimming pool, gym dan sauna, gaya kan? ^blink^ ^blink^) atau suasana jalan raya yang ada tepat di seberang kamar saya.

Akses ke stasiun MRT atau Bus Interchange pun sangat mudah. Tinggal berjalan kaki kurang lebih 5-7 menit, sampai deh. Begitu pula akses ke pasar, supermarket, ATM, 7eleven dan lain sebagainya. Dapat dijangkau dengan jalan kaki saja.

Satu hal yang belum terwujud adalah mengadakan BBQ dalam rangka housewarming rumah baru. Rencananya saya akan mengundang colleagues saya untuk BBQ bersama di gazebo di pinggir swimming pool. Hanya saja minggu ini saya sibuk. Ada pentas Musical Play bersama KKIS (Keluarga Katolik Indonesia di Singapura) dimana saya bertanggung jawab untuk soal musik - pada hari Minggu nanti. Lagi pula pekerjaan di kantor juga bertambah karena kami kedatangan teman-teman baru 16 orang pendengar yang mengikuti ELC - English Learning Course selama 2 minggu. Kami semua dari Indonesian Svc "kecipratan rejeki" untuk menemani teman-teman baru kami berjalan-jalan mengelilingi kota kecil ini.

Jadi, nanti cerita nya saya lanjutkan ya? kalau sudah ada cerita baru... hahahhahaha.

Wednesday, November 17, 2004

CCTV

Beberapa minggu yang lalu, di headlines The Straits Times saya membaca, semua sekolah-sekolah di negeri ini akan mulai dipasang Closed Circuit Television atau CCTV. Mengapa? hmmm... ya, alasan keamananlah, dikaitkan dengan ancaman teroris dan sebagainya. Mungkin pemerintah negara ini cemas jika insiden penyanderaan sebuah sekolah di Selatan Rusia terjadi disini. Hehehe. Jadi nanti, selain airport, pusat perbelanjaan, perkantoran, stasiun MRT, bank, jalan raya, sekolah pun masuk dalam daftar pengawasan.

Sejak beberapa minggu yang lalu pula, polisi disiagakan di tempat-tempat keramaian. Bukan dengan maksud tertentu, tetapi untuk menjaga keamanan saja. Bicara soal polisi, saya jadi ingat, bukan suatu pemandangan aneh jika serombongan polisi berpakaian preman (tetapi tetap menempelkan badge atau kartu pengenal) masuk ke sebuah club untuk melakukan pemeriksaan. Memang sih, mereka tidak menggeledah atau menginterograsi pengunjung, mereka hanya 'melihat-lihat' saja tapi hal ini kelihatan aneh.

Bicara soal club, pemerintah disini sedang menggodok satu peraturan yang isinya melarang pengunjung club, bar, discotheque, atau sejenisnya untuk merokok. Artinya, pub, bar, club, discotheque pun jadi smoke-free zone. Walaupun peraturan ini hanya akan diterapkan satu hari dalam seminggu saja (rencananya sih Rabu malam - pas ladies night) tapi tetap saja ada protes dari para pengusaha tempat hiburan disini. Iyalah, apa enaknya minum alkohol tanpa rokok? hehehhehehehe. sama seperti makan sayur tanpa garam. hambar.

Kembali ke soal CCTV, iseng-iseng saya browsing internet mencari tahu soal tempat-tempat dimanakah yang juga dipasangi CCTV. Ternyata di beberapa tempat yang sering terjadi tindak kriminal (tenaaang... bukan kriminal kelas berat, kok, tapi pencopetan atau berantem ajah.. :p)
seperti di kawasan Little India dan Boat Quay, termasuk Newton Food Center dipasangi 30-45 buah kamera pengawas. Hal ini sudah berlangsung selama setahun. Wah wah.

Wednesday, November 10, 2004

rumahku

Tak terasa sudah lebih 6 bulan saya tinggal di kota kecil ini, di kota sekaligus negara yang luasnya sedikit lebih besar dari kota Jakarta, dengan jumlah penduduk yang hanya 4 juta jiwa saja. Satu topik yang belum pernah saya tulis adalah tempat tinggal saya disini.

Sejak bulan Mei yang lalu, saya tinggal di sebuah kamar di flat HDB (Housing and Development Board - sebuah badan pemerintah yang bertanggungjawab soal masalah perumahan buat warga singapura) berkamar tiga (artinya: 1 master bedroom dengan kamar mandi di dalam, 2 common bedroom, 1 dapur, 1 living room, 1 kamar mandi dan 1 store-room) milik kakak sahabat baik saya di jakarta, yang telah tinggal dan menjadi permanent resident disini selama 5 tahun, di daerah Toa Payoh.

Toa Payoh (yang artinya 'big swamp') adalah kota satelit pertama di Singapura. Ketika wilayah-wilayah lainnya disini masih belum tertata, Toa Payoh sudah menjelma menjadi kawasan kota yang lebih 'maju' dibandingkan daerah lainnya. Dengan flat-flat yang menjulang, pusat perbelanjaan, taman, dan lain sebagainya. Itu dulu. Saat ini, kawasan lainnya juga sudah menjelma rapi seperti Toa Payoh. Makanya tak heran kalau di daerah ini masih banyak flat-flat tua mungkin flat-flat yang pertama dibangun di kota ini. Selain itu, di sini pun terdapat daerah industri, sport center, community park, library, bioskop, pusat perbelanjaan dan terminal bus paling canggih di singapura. hehehehhehe. Jangan bayangkan terminal bus ini seperti Kampung Rambutan atau Kalideres atau Blok M, di Toa Payoh, terminal bus, atau bus interchange, dilengkapi dengan pendingin udara dan pintu kaca yang terbuka secara otomatis. Bus-bus lah nanti yang mendatangi para calon penumpang yang telah berbaris rapi di lajur yang tersedia untuk masing-masing jurusan. Jadi tak ada ceritanya penumpang berlarian mengejar bus, sambil berdesak-desakkan dengan resiko gak kebagian tempat duduk (ups, maaf, itu di Terminal Tanah Abang... :))

Tidak seperti flat lainnya yang menjulang tinggi, flat yang saya tinggali hanya terdiri dari 6 lantai. Itu lah sebabnya, ketika pertama kali menginjakkan kaki di blok 172A ini saya bertekad untuk naik turun tangga saja, sekalian olahraga, toh? tapi, rencana tinggal rencana, janji tinggal janji, karena hal ini sampai 6 bulan ke depan belum juga terlaksana... hahahhahaha.

Oh iya, satu hal lagi... saya tak mengerti pula mengapa blok saya ini (tak hanya blok saya, tapi juga di blok-blok lain di sekitar saya) sepi sekali keadaannya. tidak hanya pagi, siang, sore, malam, pun tak tampak ada ibu-ibu yang duduk ngerumpi, anak-anak yang bermain bola, pembantu yang menyuapi anak majikannya, bapak-bapak yang berolahraga... keadaannya sepi seperti tak ada satu pun yang tinggal disitu. kemanakah perginya orang-orang..?

Sunday, October 31, 2004

seperti di tanah abang...

Pasar malam. Penjual berteriak-teriak menawarkan dagangannya. Kebaya, baju kurung, baju koko, kopiah, kain batik, baju muslim digantung di langit-langit tenda terpal. Lautan manusia. Bau keringat bercampur bau dendeng, martabak, kebab isi daging, hot dog isi daging cincang, ramly burger, udang goreng, ketam goreng, cakwe, onde-onde, kue tutu (putu), kue-kue jajanan pasar dan kue-kue kering. Bunga-bunga plastik. Karpet, tirai dan taplak meja berenda...

De ja vu...
Di Pasar Tanah Abang, kah?
Bukan...
saya ada di Geylang Serai..

makan sahur di Johor Bahru

... saya memang tidak berpuasa, tetapi teman-teman di kantor, baik Indonesian Svc maupun Malay Svc semua berpuasa. Hari Jumat -eh, Sabtu dini hari kemarin mereka mencari alternatif lain untuk makan sahur, yaitu di Johor Bahru. Kota kecil yang masuk menjadi bagian dari Malaysia ini memang terletak tak jauh dari Singapura. Dari daerah tempat saya tinggal di Toa Payoh saya naik satu kali train ke arah Jurong East via Woodlands, kemudian turun di Marsiling (karena seorang teman menjemput kami dengan mobil disana).

Perjalanan memasuki Johor agak memakan waktu karena macet panjang di pintu keluar perbatasan Singapura - Johor maupun pintu masuk Johor, pemeriksaan passport dan kartu imigrasi, menjadi salah satu penyebabnya. Selain itu karena begitu banyaknya mobil yang akan keluar Singapura menuju Johor padahal lajur jalannya terbatas, jadilah adu cepat mengemudi a.k.a sodok menyodok a la Jakarta diperlukan disini. Padahal saat itu sudah menunjukkan pukul 12.00 malam. Ternyata banyak warga Malaysia yang bekerja di Singapura dan kembali ke Johor pada saat ujung minggu. Tak hanya yang berkendara mobil, tetapi juga motor. Setiap ujung minggu pasti kemacetan seperti ini terjadi. Bagi warga Jakarta yang terbiasa dengan padatnya jalan raya baik jalan biasa maupun jalan tol sih, pemandangan seperti ini sudah bukan hal yang luar biasa lagi.... hehehehe. yaaa.. itung-itung mengenang ruwetnya jalan tol kebun jeruk tiap jam pulang kantor...

Menurut saya, Johor tak terlalu berbeda dengan kota-kota di pinggir Jakarta. Ketika memasuki Johor pada jam 1 pagi, saya merasa seperti memasuki Cirebon atau Sukabumi pada saat dulu travelling keliling Jawa. Jalan-jalan lebar, toko-toko di pinggir jalan, tanah sangat lapang, sedikit gedung-gedung tinggi, berbeda dengan keadaan di Singapura.

Kami menuju Hotel Hyatt Johor, karena memang seperti rencana semula, kami makan sahur di sana. Untuk buffet sahur all-you-can-eat, harganya 23 ringgit nett per orang, atau $S 11. Sayangnya, saya bukan tipe pemakan banyak, apalagi harus makan berat di waktu dini hari, melihat makanan berlimpah saja saya sudah tak nafsu apalagi disuruh makan banyak sehingga yang bisa masuk ke perut saya hanya soup jagung-kepiting dan bubur ayam.

Sayangnya, perjalanan ke Johor ini dilakukan pada dini hari, sehingga keindahan kota ini sulit saya lihat dengan jelas. Gelap. Dan sepi. Padahal saya yakin banyak tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi disini. Suatu saat nanti saya ingin kembali kesini, tapi tidak di pagi-pagi buta. Apalagi karena mata uang ringgit itu nilainya lebih kecil dari dollar singapura, jadinya, bisa belanja banyak doooong.. ;)

Friday, October 29, 2004

Pembiaran?

Sesosok lelaki
tergeletak di aspal panas
dengan perut terbuka
dan usus terburai

Sebuah truk besar
Melindas raganya
Meremukkan sepeda motornya
Hancur tak berbentuk

Sesosok lelaki
Telah menjadi segumpal daging
Tak bernyawa
Dibiarkan teronggok tiga jam
Dengan selembar plastik (yang terbang jika tertiup angin dan menampakkan isi perut yang terburai...)



nb: diinspirasikan dari kejadian nyata. 3 minggu yang lalu di perempatan mc ritchie reservoir, kecelakaan ini terjadi. aku melihat dengan mata kepala sendiri, karena di perempatan inilah aku berhenti untuk bertukar bus menuju kantor. miris melihat manusia dibiarkan tergeletak dengan perut terbuka di tengah jalan. dan rasa miris berubah menjadi marah ketika menurut surat kabar, kecelakaan itu terjadi sekitar pukul 7.30 pagi, sedangkan aku lewat disana jam 9.50 dan korban masih dibiarkan tergeletak di jalan. memang sudah banyak polisi yang menjaga, tapi apakah layak, manusia tak bernyawa dibiarkan begitu saja selama 3 jam di tengah jalan? lalu, apa bedanya manusia dengan anjing? peraturan apa sih yang diterapkan di negara ini?

indonesia vs melayu

Tak sulit mendapatkan makanan tak halal di kota ini. Ya iyalah! mayoritas penduduk disini chinese sehingga makanan berbahan dasar babi maupun bukan berbahan dasar babi tapi mengandung babi sangat amat banyak. Tapi percayalah, saya belum menemukan makanan selezat nasi campur kenanga dengan sate manisnya yang waw wawww atau Bakmie Siantar Kelapa Gading dengan topping daging babi cincang dan char sew yang alamaaakkk top dah- di kota ini. Atau dengan kata lain, makanan berbabi di Jakarta masih jauh lebih wueeenaaaakkk tenaaannn, rek! ketimbang disini. SUER!! hehehhehe...

Well, anyway,
Saya agak-agak was-was sebenarnya kalau mau makan makanan berbabi disini, karena takut penjualnya tak percaya kalau saya boleh a.k.a tak dosa kalau makan babi. Jangan-jangan saya malah dimarahi sama penjualnya. Hahahahahha. Persoalannya sederhana aja, secara fisik mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, saya itu tampak seperti masyarakat Melayu disini. Ya iyalah, saya kan Betawi, cing! Betawi Jawa, tepatnya. Tapi saya boleh makan babi. Percayalah. Agama yang saya anut melakukan ritual keagamaan dengan red wine. alkohol saja boleh diminum, apalagi daging babi, hihihihi. Anyway, kembali ke soal perbabian. Disini, 99.9% warga melayu yang sedikit jumlahnya itu beragama Islam. Sehingga, agak aneh kalau melihat ada perempuan berwajah Melayu, di hawker center, berjalan ke stall bertuliskan aksara cina, memesan seporsi rice with roasted pork & char sew atau semangkuk noodle with chopped-pork. Pandangan aneh tak hanya saya dapatkan dari uncle penjual nasi tapi juga dari orang-orang Melayu yang kebetulan duduk di sekitar saya. Kadang-kadang saya bisa tak peduli dan terus makan, tapi terus terang, beberapa kali saya menjadi risih karena dipandang begitu rupa. Rasanya ingin teriak "APA SALAH SAYAAAAA..????"

Seorang teman menyarankan agar saya mengenakan kalung dengan simbol agama yang saya anut. Tapi saya tegas-tegas menolak ide ini. Bukan apa-apa, menurut saya, simbol-simbol keagamaan bukan untuk dipamerkan, diperlihatkan apalagi dijadikan perhiasan. lagi pula saya merasa tak pantas mengenakannya. habis perkara. titik. selesai.


wong saya cuma ingin menikmati babi panggang saja, kok... repot banget. repot ya?

suatu kebodohan

Sebenarnya sejak kemarin saya sudah ingin menulis ke dalam blog ini, tapi, karena satu kebodohan yang saya buat, menyebabkan keinginan itu terhalang.
Kebodohan itu sederhana saja, saya lupa user id saya apa, sehingga saya tak bisa masuk ke dalam blogger ini. hahahhaha. biasanya orang lupa password, tapi kali ini saya lupa user id. Cerdas! (ini istilah yang sering digunakan oleh seorang sahabat saya, jika saya melakukan suatu tindak kebodohan, "cerdas" bukan makna sebenarnya)

Beberapa minggu belakangan ini, saya ingin sekali minum wine. Sudah 2 malam saya habiskan di bulan ini untuk menikmati segelas red atau white wine, ditemani oleh sepiring salad. (jangan tanya, mengapa makan malam saya hanya salad. saat ini saya sedang dalam program penurunan berat badan. setiap hari, 3 kali sehari saya menelan sebutir capsule 'ultra mega fat burners' yang katanya merupakan 'the quickest way to slim'. nasi untuk makan siang sudah jauh saya kurangi, bahkan saya hilangkan, dan untuk sarapan saya hanya makan setangkup multi-grain bread dengan very light low-fat sliced cheese ditambah segelas low fat kiwi yoghurt dan semangkuk wortel mentah, 5 butir strawberry dan sebutir apel. olahraga? hmmm... karena disini kemana-mana saya jalan kaki, jadi menurut saya sudah cukuplah, hahahhaha)

Kembali ke soal wine,
di kota kecil ini, tempat paling pas menurut saya untuk minum wine adalah ke daerah Holland Village. Mungkin karena banyak pekerja asing atau ekspatriat yang tinggal di daerah ini, sehingga banyak sekali restoran yang menyediakan wine ataupun wine lounge disana. minggu yang lalu, di Restoran Mexico El Patio yang saya kunjungi, sedang ada promosi, satu botol wine asal australia yang dijual hanya dengan harga $12. Murah banget. Tapi siapa yang sanggup menghabiskan sebotol besar merlot sendirian? mungkin ada ya, tapi saya gak bisa... hahahhaha. gak sanggup deh, cing! Semalam, saya terdampar diatas sebuah restoran "Bali Wanna-Be" namanya 211 Roof Terrace (tempat ini memang bernuansa Bali, lengkap dengan bangku-bangku jati berukir, lampu-lampu, patung-patung a la Bali) yang memang berada di atap sebuah pusat perbelanjaan di Holland Village, sambil menikmati segelas red wine. Nikmat.

Di sini, segelas wine dijual dengan harga rata-rata $8 atau $9 di restoran atau cafe. Kebanyakan wine dari Australia. Karena saya bukan wine connoisseur, jadi saya tak tahu lah yang mana yang enak yang mana yang enggak enak. yang penting rasanya pas, tak terlalu masam, sudah cukup. lagipula minum wine bagi saya bukan untuk melepas dahaga (kalau mau ngelawan haus ice mountain drinking water aja, dong..) tapi untuk pelepas lelah, penghibur hati yang sepi, dan menghabiskan waktu. o ya, satu lagi, mencari kehangatan. hahahhahaha.


Cuaca agak tak bersahabat beberapa hari belakangan. Mendung seharian, hujan turun di waktu pagi atau malam hari. udara lembab dan agak dingin. Berkah untuk teman-teman saya yang berpuasa, mungkin, jadi tidak terlalu kehausan karena kepanasan.

Tuesday, October 26, 2004

akhirnya, saya kembali...

...setelah semalam seorang teman mengirimkan sms dan ia menulis "blog nya makin bagus, gue ngiri deh". Tentu saja saya kaget, karena blog saya sudah beberapa bulan ini hilang dari peredaran. Sebenarnya masalahnya sederhana, saya ingin merubah alamat e-mail yang tampak di blog, tapi apa yang terjadi, saya salah menekan entahlah apa, sehingga yang kemudian terjadi adalah seluruh tampilan blog saya hilang. lenyap. kiamat. tak berbekas.

sebenarnya yang membuat saya kesal adalah, sejumlah tulisan yang menurut saya bagus ikut hilang. saya jarang menilai tulisan saya bagus, tapi pernah beberapa kali saya menulis dan ternyata setelah saya baca berulang-ulang, bolehlah saya mengatakan pada diri saya. lumayan juga, fik... hahahahhaha.

well, anyway,
akhirnya, saya membuat blog lagi, setelah menghabiskan kurang lebih 2 jam terakhir dengan membaca beberapa blog milik teman-teman. beberapa tulisan sangat menyentuh. beberapa membuat saya tertawa. sisanya, saya jadi rindu dengan mereka.

kalau mau dihitung-hitung sudah 6 bulan saya berada di kota kecil ini. jauh dari teman-teman, jauh dari orang-orang yang saya anggap dekat. membaca blog mereka menjadi satu kegiatan kecil yang ternyata tidak mengobati kerinduan itu tapi justru membuatnya makin parah. sudah banyak cerita terlewat sejak blog lama saya menghilang, tetapi di lain waktu saja saya ceritakan. sementara cukup sekian dengan kata pembukaannya...

sampai ketemu lagi ya...