Friday, October 29, 2004

indonesia vs melayu

Tak sulit mendapatkan makanan tak halal di kota ini. Ya iyalah! mayoritas penduduk disini chinese sehingga makanan berbahan dasar babi maupun bukan berbahan dasar babi tapi mengandung babi sangat amat banyak. Tapi percayalah, saya belum menemukan makanan selezat nasi campur kenanga dengan sate manisnya yang waw wawww atau Bakmie Siantar Kelapa Gading dengan topping daging babi cincang dan char sew yang alamaaakkk top dah- di kota ini. Atau dengan kata lain, makanan berbabi di Jakarta masih jauh lebih wueeenaaaakkk tenaaannn, rek! ketimbang disini. SUER!! hehehhehe...

Well, anyway,
Saya agak-agak was-was sebenarnya kalau mau makan makanan berbabi disini, karena takut penjualnya tak percaya kalau saya boleh a.k.a tak dosa kalau makan babi. Jangan-jangan saya malah dimarahi sama penjualnya. Hahahahahha. Persoalannya sederhana aja, secara fisik mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, saya itu tampak seperti masyarakat Melayu disini. Ya iyalah, saya kan Betawi, cing! Betawi Jawa, tepatnya. Tapi saya boleh makan babi. Percayalah. Agama yang saya anut melakukan ritual keagamaan dengan red wine. alkohol saja boleh diminum, apalagi daging babi, hihihihi. Anyway, kembali ke soal perbabian. Disini, 99.9% warga melayu yang sedikit jumlahnya itu beragama Islam. Sehingga, agak aneh kalau melihat ada perempuan berwajah Melayu, di hawker center, berjalan ke stall bertuliskan aksara cina, memesan seporsi rice with roasted pork & char sew atau semangkuk noodle with chopped-pork. Pandangan aneh tak hanya saya dapatkan dari uncle penjual nasi tapi juga dari orang-orang Melayu yang kebetulan duduk di sekitar saya. Kadang-kadang saya bisa tak peduli dan terus makan, tapi terus terang, beberapa kali saya menjadi risih karena dipandang begitu rupa. Rasanya ingin teriak "APA SALAH SAYAAAAA..????"

Seorang teman menyarankan agar saya mengenakan kalung dengan simbol agama yang saya anut. Tapi saya tegas-tegas menolak ide ini. Bukan apa-apa, menurut saya, simbol-simbol keagamaan bukan untuk dipamerkan, diperlihatkan apalagi dijadikan perhiasan. lagi pula saya merasa tak pantas mengenakannya. habis perkara. titik. selesai.


wong saya cuma ingin menikmati babi panggang saja, kok... repot banget. repot ya?

0 Comments:

Post a Comment

<< Home