Wednesday, November 10, 2004

rumahku

Tak terasa sudah lebih 6 bulan saya tinggal di kota kecil ini, di kota sekaligus negara yang luasnya sedikit lebih besar dari kota Jakarta, dengan jumlah penduduk yang hanya 4 juta jiwa saja. Satu topik yang belum pernah saya tulis adalah tempat tinggal saya disini.

Sejak bulan Mei yang lalu, saya tinggal di sebuah kamar di flat HDB (Housing and Development Board - sebuah badan pemerintah yang bertanggungjawab soal masalah perumahan buat warga singapura) berkamar tiga (artinya: 1 master bedroom dengan kamar mandi di dalam, 2 common bedroom, 1 dapur, 1 living room, 1 kamar mandi dan 1 store-room) milik kakak sahabat baik saya di jakarta, yang telah tinggal dan menjadi permanent resident disini selama 5 tahun, di daerah Toa Payoh.

Toa Payoh (yang artinya 'big swamp') adalah kota satelit pertama di Singapura. Ketika wilayah-wilayah lainnya disini masih belum tertata, Toa Payoh sudah menjelma menjadi kawasan kota yang lebih 'maju' dibandingkan daerah lainnya. Dengan flat-flat yang menjulang, pusat perbelanjaan, taman, dan lain sebagainya. Itu dulu. Saat ini, kawasan lainnya juga sudah menjelma rapi seperti Toa Payoh. Makanya tak heran kalau di daerah ini masih banyak flat-flat tua mungkin flat-flat yang pertama dibangun di kota ini. Selain itu, di sini pun terdapat daerah industri, sport center, community park, library, bioskop, pusat perbelanjaan dan terminal bus paling canggih di singapura. hehehehhehe. Jangan bayangkan terminal bus ini seperti Kampung Rambutan atau Kalideres atau Blok M, di Toa Payoh, terminal bus, atau bus interchange, dilengkapi dengan pendingin udara dan pintu kaca yang terbuka secara otomatis. Bus-bus lah nanti yang mendatangi para calon penumpang yang telah berbaris rapi di lajur yang tersedia untuk masing-masing jurusan. Jadi tak ada ceritanya penumpang berlarian mengejar bus, sambil berdesak-desakkan dengan resiko gak kebagian tempat duduk (ups, maaf, itu di Terminal Tanah Abang... :))

Tidak seperti flat lainnya yang menjulang tinggi, flat yang saya tinggali hanya terdiri dari 6 lantai. Itu lah sebabnya, ketika pertama kali menginjakkan kaki di blok 172A ini saya bertekad untuk naik turun tangga saja, sekalian olahraga, toh? tapi, rencana tinggal rencana, janji tinggal janji, karena hal ini sampai 6 bulan ke depan belum juga terlaksana... hahahhahaha.

Oh iya, satu hal lagi... saya tak mengerti pula mengapa blok saya ini (tak hanya blok saya, tapi juga di blok-blok lain di sekitar saya) sepi sekali keadaannya. tidak hanya pagi, siang, sore, malam, pun tak tampak ada ibu-ibu yang duduk ngerumpi, anak-anak yang bermain bola, pembantu yang menyuapi anak majikannya, bapak-bapak yang berolahraga... keadaannya sepi seperti tak ada satu pun yang tinggal disitu. kemanakah perginya orang-orang..?

0 Comments:

Post a Comment

<< Home